Tactical Analysis

Why Manchester City's Press Differs from Liverpool's: Objectives and Patterns

How Salah masters why manchester city's press differs from liverpool's: objectives and patterns — a deep-dive soccer tactics breakdown for Indian football…

July 29, 20269 min read

Pendahuluan

Pressing sering digambarkan sebagai “berlari ke arah lawan,” tetapi di sepak bola elite Eropa ini adalah sistem yang dirancang dengan cermat dan tujuan yang jelas. Di bawah Pep Guardiola, pressing Manchester City terutama tentang kontrol: merebut kembali bola dengan cepat sambil menjaga jarak antarpemain agar sempurna sehingga City bisa menyerang lagi tanpa kekacauan. Di bawah Jürgen Klopp, pressing Liverpool lebih tentang mengacaukan permainan: memaksa kesalahan, menciptakan transisi, dan menyerang lawan sebelum mereka bisa reset. Keduanya adalah tim yang menerapkan “pressing tinggi” di Premier League, tetapi mereka menekan dengan alasan dan pola yang berbeda. Bagi penggemar di Indonesia yang menonton cuplikan UEFA Champions League atau Premier League (atau membandingkannya dengan Liga 1 Indonesia), tampak serupa—banyak sprint, banyak tekanan—tetapi rinciannya menjelaskan mengapa City sering mencekik pertandingan sementara Liverpool sering mengubah pertandingan menjadi gelombang serangan. Artikel ini mengurai tujuan, formasi di lapangan, peran individu, dan pola berulang yang membedakan pressing City dan Liverpool, menggunakan contoh yang jelas dan pelajaran praktis.

Bagaimana Cara Kerjanya

Pressing Manchester City di bawah Guardiola dibangun untuk melindungi struktur terlebih dahulu. Ketika City kehilangan bola, pemain terdekat “counter-press” segera, tetapi ide yang lebih besar adalah mengunci lawan ke zona yang dapat diprediksi dan merebut bola dengan cara yang menjaga keseimbangan City untuk serangan berikutnya. City sering menggunakan larian pressing melengkung dari penyerang (misalnya Erling Haaland, atau sebelumnya Sergio Agüero) untuk memblok operan ke poros lawan (yaitu gelandang bertahan sentral) sambil memaksa permainan ke sisi. Sayap City sayap melompat ke bek sayap, dan garis tengah mempertahankan jarak kompak di belakang mereka sehingga jika press terlewati, City masih bisa memperlambat serangan balik. Detail penting City adalah bagaimana lini belakang memosisikan diri: bek tengah dan “pertahanan tersisa” (pemain yang tertinggal di belakang bola) maju untuk mengecilkan ruang, tetapi mereka juga menjaga penjagaan, sering kali dengan satu bek sayap menarik ke dalam untuk mencegah bola langsung ke tengah. Pressing Liverpool di bawah Klopp lebih tentang membuat jebakan dan kemudian menyerang saat bola dimenangkan. Penyerang Liverpool menekan dengan gagasan agresif dan terarah: mereka menggoda lawan untuk melakukan operan yang tampak aman (sering ke bek sayap atau gelandang yang menerima dengan punggung menghadap permainan) dan kemudian menyerbu dengan beberapa pelari. Penyerang sayap dan gelandang sprint untuk menutup opsi, sementara lini pertahanan mempertahankan posisi tinggi untuk menjaga lawan tetap terjepit. Ciri khas Liverpool adalah bahwa press terhubung dengan serangan vertikal segera—Mohamed Salah, Sadio Mané (sebelumnya), Luis Díaz, Darwin Núñez—pemain-pemain ini siap meledak ke ruang begitu bola direbut. City bisa menekan untuk menjaga bola; Liverpool menekan untuk menciptakan rute tercepat ke gawang. Perbedaan itu—kontrol versus kekacauan—mengubah segalanya: jarak antar pemain, toleransi risiko, dan seberapa cepat tim menyerang setelah memenangkan bola.

Contoh Pertandingan

Sebuah contoh berguna dari Manchester City adalah leg kedua semi-final UEFA Champions League 2022-23: Manchester City vs Real Madrid di Etihad. Pressing City bukan sekadar mengejar; itu memblok. Haaland dan Kevin De Bruyne mengarahkan tekanan mereka untuk mencegah Toni Kroos dan Luka Modrić menerima bola dengan bersih, sementara lini tengah City tetap cukup dekat untuk memenangkan bola kedua. Hasilnya Real Madrid berulang kali dipaksa melakukan clearance yang tidak nyaman daripada membangun dari tengah. City kemudian menyerang kembali dalam gelombang karena jarak pertahanan mereka tetap utuh. Referensi City lain adalah pertandingan Premier League 2023-24 Manchester City vs Arsenal di Etihad, di mana City menekan dengan kesabaran. Mereka memberi bek tengah Arsenal beberapa sentuhan tapi menutup jalur sentral ke Declan Rice dan Martin Ødegaard secara agresif, mengarahkan bola ke sisi dan kemudian menjebak di dekat garis samping. Ini adalah pressing sebagai pengelolaan wilayah: City menjaga Arsenal jauh dari kotak City dan merebut bola di area yang masih memungkinkan City untuk menjaga penguasaan bola. Untuk Liverpool, tonton Liverpool vs Manchester City di Premier League 2017-18 di Anfield (peringatan 4-3 yang terkenal). Pressing Liverpool tentang memaksa “event football.” City kesulitan karena lini depan Liverpool menekan dengan kecepatan penuh, gelandang melompat maju, dan suasana stadion memperkuat tempo. Ketika Liverpool memenangkan bola, mereka menyerang segera ke ruang yang ditinggalkan City. Contoh Liverpool lain yang jelas adalah Liverpool vs Barcelona di leg kedua semi-final UEFA Champions League 2018-19 di Anfield (4-0). Pemicu pressing Liverpool konstan: umpan mundur, sentuhan pertama yang buruk, atau penerima yang menghadap gawang sendiri. Liverpool juga menyerang pada momen-momen tertentu—restart cepat, tekanan segera setelah kehilangan bola—karena tujuannya adalah untuk membanjiri sebelum lawan bisa bernapas. Dalam pertandingan-pertandingan ini, pressing Liverpool langsung menghasilkan tembakan dan gol, sementara pressing City lebih sering menghasilkan dominasi berkelanjutan dan serangan berulang.

Konsep & Keterampilan Terkait

Implikasi Latihan

Jika Anda melatih atau bermain (bahkan di sekolah, perguruan tinggi, lapangan turf, atau kompetisi seperti Liga 1 Indonesia), Anda dapat melatih pressing gaya City dan gaya Liverpool dengan latihan sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, tentukan tujuan setiap drill: “menang dan mempertahankan” (City) atau “menang dan menyerang dalam 5 detik” (Liverpool). Dalam permainan penguasaan bola 6v6 + 2 pemain netral, latih tujuan City dengan memberi poin/team untuk merebut kembali bola dan menyelesaikan 6 operan. Minta jarak pendek: jaga garis Anda dalam kisaran sekitar 10–15 meter sehingga pressing tetap terhubung. Ajarkan larian pressing melengkung: penekan pertama mendekati pembawa bola sambil memblok operan ke tengah, memaksa permainan ke sisi. Tambahkan aturan bahwa satu bek sayap atau gelandang sayap menarik ke dalam ketika bola berada di sisi jauh, sehingga pertahanan tersisa tetap kuat. Untuk sesi gaya Liverpool, gunakan 7v7 di kotak 40x30 meter dengan gawang mini. Hadiahi gol hanya jika tercipta dalam 8 detik sejak perebutan kembali bola. Latih pemicu: ketika Anda melihat umpan mundur atau penerima dengan bentuk badan tertutup (punggung menghadap permainan), semua maju bersama. Tetapkan peran: pemain terdekat menekan, pemain kedua menutup operan ke dalam, dan pemain ketiga melindungi umpan panjang. Akhirnya, rekam segmen 10 menit dan hitung: (1) berapa banyak perebutan kembali yang terjadi di babak menyerang, dan (2) berapa detik yang dibutuhkan untuk menciptakan tembakan setelah perebutan. Kedua angka itu memberi tahu Anda apakah pressing Anda menjadi lebih mirip City (kontrol dan serangan berulang) atau lebih mirip Liverpool (serangan cepat).

Apply This in Your Game

Reading about tactics is one thing. Our training units teach you to execute these concepts in real match situations.